
Kehidupan yang Ditebus oleh Allah
Bacaan ayat: 1 Korintus 6:20 (TB)
“Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu!”
Oleh Pdt Feri Nugroho
Dalam sebuah percakapan atau perdebatan, sering muncul argumen bahwa seseorang memiliki hak penuh atas apa yang dimilikinya. Misalnya, dalam kasus pelanggaran hukum, seseorang mungkin mengatakan, “Ini tangan saya. Saya bisa memakainya untuk memukul atau berjabat tangan, itu urusan saya.”
Namun, jelas terlihat bahwa tindakan tersebut bisa menyebabkan luka dan penderitaan bagi orang lain. Ini menjadi pola hidup yang akan terus ada selama kita masih tinggal di bumi ini. Banyak orang lebih fokus pada diri sendiri, mencari keuntungan pribadi, mengumpulkan barang-barang, atau meraih prestasi sebagai simbol kesuksesan.
Tidak menutup kemungkinan bahwa pola pikir seperti ini masih ada pada seseorang yang mengaku percaya kepada Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Paulus menghadapi jemaat Korintus yang juga masih memiliki pola pikir serupa. Mereka terbiasa hidup bebas, baik dalam hal makan minum maupun pergaulan. Bagi mereka, jika sesuatu bisa dinikmati, mengapa harus ditinggalkan?
Inilah yang menyebabkan mereka masih terikat pada pola pikir egois, di mana segala hal difokuskan pada kepentingan diri sendiri. Mereka menganggap tubuh adalah milik pribadi, dan bisa digunakan sekehendak hati. Namun, dalam karya penyelamatan Allah melalui Yesus Kristus, pandangan ini salah besar.
Allah mengajarkan bahwa manusia yang berdosa sebenarnya adalah hamba dosa, sehingga perilakunya cenderung mengarah pada dosa. Ketika seseorang percaya kepada Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, ia telah ditebus dari dosa. Itu sebabnya terjadi peralihan tuan yang menguasai; kali ini, Allah menjadi Sang Empunya yang telah menebus-Nya.
Artinya, “kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu!”
Maka, tubuh harus beralih fungsi; bukan lagi menjadi hamba dosa, melainkan telah menjadi hamba Allah. Konsekuensi logisnya adalah hidup yang memuliakan Allah. Jika dahulu hidup membelakangi Allah, sekarang setelah percaya akan hidup berhadapan dengan Allah setiap waktu. Tidak lagi ada yang tersembunyi. Segala hal dilakukan dalam rangka memuliakan Allah.
Karena hidup yang sebenarnya adalah milik Allah. Inilah realita pembaharuan dalam Yesus Kristus. Kehidupan kita bukan lagi milik kita, melainkan milik Dia yang telah menebus kita dari dosa.
Maka sudah selayaknya kehidupan dan perilaku kita selalu memuliakan Allah. Amin.