Misa Perjamuan Kudus untuk Maria Bernadeth Latifah Oetama, Istri Jakob Oetama

Misa Perjamuan Kudus untuk Maria Bernadeth Latifah Oetama, Istri Jakob Oetama

Perayaan Misa Arwah untuk Ibu Maria Bernadeth Latifah Oetama

Misa arwah yang digelar untuk Ibu Maria Bernadeth Latifah Oetama, istri almarhum Jakob Oetama, pendiri Kompas Gramedia, berlangsung di rumah duka Jalan Sriwijaya Raya, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Acara ini diselenggarakan pada Rabu (27/5/2026) malam dan menjadi momen penting bagi keluarga besar untuk merayakan kehidupan almarhumah.

Acara dimulai sekitar pukul 18.30 WIB dan dipimpin oleh Romo Dedomau Djatmiko da Gomez, SJ. Suasana khidmat terasa saat misa dimulai dengan lantunan lagu dan doa yang mengalir dari para hadirin. Misa ini tidak hanya menjadi ajang penghormatan kepada almarhumah, tetapi juga menjadi kesempatan bagi keluarga, sahabat, dan kerabat dekat untuk berdoa dan bersilaturahmi.

Refleksi Mengenai Keutamaan Hidup Almarhumah

Dalam homilinya, Romo Dedo menyampaikan refleksi mendalam tentang keutamaan hidup almarhumah yang telah berpulang pada usia 92 tahun. Menurutnya, Ibu Maria Bernadeth adalah sosok yang memiliki keseimbangan hidup yang luar biasa antara kedisiplinan tinggi dan kemurahan hati. Ia menekankan bahwa kedua nilai tersebut selalu dijaga oleh almarhumah hingga akhir hayatnya.

"Keseimbangan itu menurut saya. Dan dia menjaga betul-betul kedua keutamaan yang dia miliki itu sampai akhirnya bisa bertahan hingga 92 tahun," ujar Romo Dedo.

Ia mengibaratkan Ibu Maria Bernadeth sebagai prajurit tangguh yang membangun keluarganya dengan martabat penuh. Bagi Romo Dedo, perjalanan hidup almarhumah merupakan simbol dari perjuangan manusia yang sesungguhnya.

Kenangan dari Putra Sulung Almarhumah

Usai misa arwah, putra sulung almarhumah, Irwan Oetama, memberikan sambutan yang menyentuh hati mewakili keluarga besar. Kepergian sang ibu meninggalkan duka sekaligus rasa syukur yang mendalam bagi kelima anak, tujuh cucu, dan lima cicit almarhumah.

Irwan mengungkapkan bahwa sepeninggal ayahnya, Jakob Oetama, pada tahun 2020 silam, kini anak-anak merasa benar-benar telah menjadi yatim piatu. Namun, warisan nilai-nilai hidup dari kedua orang tua mereka tetap hidup.

Menurut Irwan, rahasia umur panjang sang ibu bukanlah pengobatan medis yang mahal atau modern, melainkan kedisiplinan sederhana dan tubuh yang terus aktif bergerak. "Bagaimana orang tua kami ini bisa mencapai usia lanjut? Kalau saya bisa sharing, dari kedua orang tua kami ini, dulu kami tidak mengerti. Ibu ini adalah pendidik kami di rumah," kenang Irwan.

Sejak kecil, kelima anak mereka dididik mandiri tanpa bantuan asisten rumah tangga. Mereka terbiasa bergotong-royong mengurus rumah, mencuci pakaian, menyetrika, hingga membantu memasak di dapur. Kedisiplinan ini dipraktikkan langsung oleh almarhumah, bukan sekadar teori.

"Ibu kami, kami memanggilnya Ibu Latifah. Pagi-pagi jam 04.00 atau 04.30 itu sudah bangun. Mendengar azan subuh beliau sudah bangun untuk masak air dan menyiapkan sarapan sederhana untuk kami sekeluarga," tambah Irwan.

Pengunjung Rumah Duka Terus Berdatangan

Rumah duka terus didatangi oleh para pelayat. Jejeran karangan ucapan duka terpampang di Jalan Sriwijaya Raya. Sementara, teras rumah duka dipenuhi bunga berwarna putih serta ucapan duka atas wafatnya Ibu Maria Bernadeth Latifah Oetama.

Para tamu undangan tampak terlihat sedih namun tetap tenang dalam menghadiri acara ini. Mereka berdoa agar almarhumah diterima di sisi Tuhan dan diberi tempat yang layak di surga.