
Kondisi Keuangan Maxime Bouttier dan Hubungan dengan Luna Maya
Luna Maya, aktris ternama Indonesia, baru-baru ini memberikan penjelasan mengenai alasan suaminya, Maxime Bouttier, tinggal di rumahnya setelah menikah. Penjelasan ini muncul sebagai respons terhadap berbagai spekulasi yang beredar di media sosial, khususnya mengenai status finansial Maxime.
Banyak netizen menyebut bahwa Maxime hanya menumpang hidup setelah menikah, karena ia tinggal di rumah Luna Maya. Namun, Luna langsung memberikan pembelaan untuk suaminya. Ia menjelaskan bahwa hubungan mereka dibangun secara seimbang, termasuk dalam hal keuangan.
"Kita nikah juga segini fifty fifty, okey," ujar Luna Maya dalam wawancara melalui C8 Podcast, Rabu (13/5/2026). Meski mengakui dirinya memiliki aset yang lebih banyak, Luna juga menjelaskan bahwa ia memiliki tanggung jawab bisnis serta cicilan yang harus dibayarkan.
Menurut Luna, banyak aset bukan berarti kondisi finansial seseorang lebih aman. Ia menilai dunia bisnis yang dijalani olehnya juga memiliki risiko kerugian yang besar. Oleh karena itu, ia membeberkan alasan mengapa Maxime memilih tinggal di rumahnya setelah menikah.
Keputusan tersebut diambil karena barang-barang milik Luna jauh lebih banyak, sementara apartemen Maxime dinilai lebih praktis dan tidak terlalu besar. Meski tinggal di rumah Luna, Maxime disebut tetap ikut bertanggung jawab terhadap kebutuhan rumah tangga.
Keduanya sepakat membagi pengeluaran secara adil tanpa membebani salah satu pihak. Bahkan, Luna mengaku iri karena Maxime tidak memiliki cicilan maupun utang. Seluruh kebutuhan pria keturunan Prancis itu disebut selalu dibayar secara cash tunai.
"Mungkin banyak yang berpikir Max nggak ada duit ya. Tapi untuk seusia dia gue termasuk iri ya, nggak ada cicilan," jelas Luna Maya. Ia juga mengungkapkan bahwa banyak orang keliru menilai kondisi finansial pria berusia 33 tahun tersebut. Menurutnya, sang suami justru memiliki pengelolaan keuangan yang lebih baik dibanding dirinya.
Kesenjangan Penghasilan dalam Perkawinan
Kesenjangan penghasilan antara suami dan istri, terutama jika penghasilan istri lebih besar, bisa menjadi "duri" dalam kehidupan perkawinan. Jembatani dengan melakukan berbagai kompromi.
Laki-laki yang memegang teguh nilai maskulinitas tradisional umumnya akan merasa tidak nyaman dan terancam jika istri lebih sukses dari dirinya. "Karena merasa direndahkan, banyak suami yang balik merendahkan istrinya. Misalnya dengan tidak memberikan uang belanja ke istri dengan alasan istri sudah bekerja dan punya penghasilan lebih tinggi," kata Psikolog Anna Surti Ariani, dari Medicare Clinic Jakarta ketika dihubungi Kompas Female.
Namun menurut Nina yang paling sering terjadi adalah suami menghambat kemajuan istri, misalnya menuntut istri untuk selalu pulang cepat. "Kekerasan dalam rumah tangga juga bisa diawali dari kesenjangan penghasilan. Bentuk kekerasannya tidak harus fisik tapi juga verbal," paparnya.
Sebagai wanita yang berada di posisi lebih unggul dari suami, Anda bisa berbuat banyak untuk menjembatani komunikasi dengan suami sehingga konflik tersebut tidak melebar. "Komunikasikan secara detail dan spesifik apa saja yang mengganggu pasangan jika penghasilan kita lebih tinggi. Mungkin juga suami khawatir jika jabatan istri lebih tinggi nanti lebih sering pulang malam karena beban pekerjaan meningkat, atau istri menjadi sok-sokan," tutur Nina.
Membicarakan dengan spesifik apa yang menjadi keberatan pasangan akan membantu untuk mencari solusi yang lebih spesifik pula. Dengan demikian kedua pihak merasa terpenuhi kebutuhannya. "Kalau tidak spesifik tidak akan bisa menjawab kebutuhan, akibatnya tidak puas satu sama lain sehingga kepuasan perkawinan pun menjadi rendah," imbuhnya.
Selain itu, meski penghasilan lebih besar istri seharusnya juga dapat menjaga sikapnya sehingga suami merasa dihargai dan dibutuhkan. Dengan demikian kesenjangan penghasilan tidak akan memengaruhi kedudukan suami sebagai kepala keluarga.
Nina menambahkan, idealnya sebelum menikah kedua belah pihak sudah mengetahui apa yang diinginkan masing-masing untuk masa depannya. Misalnya membicarakan apa rencana karier di masa datang. "Pria juga bisa mengatakan kepada calon istrinya jika ia tidak mengharapkan istri memiliki penghasilan lebih besar. Paling tidak semua dibicarakan sejak awal," katanya.
Lantas, bagaimana dengan pasangan yang tidak mau berpacaran dulu sebelum menikah? Nina menyarankan agar perlu dilakukan adaptasi berdua. "Akan lebih enak kalau dibicarakan keinginan dan harapannya," pungkasnya.